Selamat datang di situs resmi MWC NU Gempol, ini adalah Situs resmi sebagai sarana informasi seputar MWCNU Gempol

MWCNU Gempol Gelar Halal Bihalal, Teguhkan Silaturahmi dan Kebersamaan Umat

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Gempol menggelar kegiatan Halal Bihalal yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini mengusung tema “Merajut Silaturahmi, Menguatkan Kebersamaan” serta dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, jajaran pemerintah, dan seluruh badan otonom NU se-Kecamatan Gempol.

Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan shalawat Nabi, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Subbanul Wathan. Rangkaian ini mencerminkan perpaduan nilai religius dan nasionalisme yang menjadi karakter Nahdlatul Ulama.

Ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa persiapan telah dilakukan selama beberapa bulan dengan penuh kekompakan dan gotong royong.
“Alhamdulillah, meskipun dengan segala keterbatasan, kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik berkat kebersamaan dan keikhlasan semua pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Gempol dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada keluarga besar NU yang selama ini turut berperan aktif dalam menjaga stabilitas dan kerukunan masyarakat. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara ulama dan pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah.
“NU memiliki peran besar dalam menjaga kondusivitas wilayah. Kolaborasi ini perlu terus dijaga demi pelayanan masyarakat yang lebih baik,” tuturnya.

Selain itu, dalam forum tersebut juga disampaikan perkembangan organisasi NU yang terus berupaya memperkuat persatuan internal serta meningkatkan sistem administrasi berbasis digital sebagai langkah adaptif menghadapi perkembangan zaman.

Dalam tausiyahnya, Kyai Yatimul Asmak menekankan pentingnya memahami makna Halal Bihalal secara mendalam. Ia menjelaskan bahwa istilah Halal Bihalal dipopulerkan oleh KH. Wahab Hasbullah sebagai tradisi untuk menyelesaikan persoalan antar sesama manusia.

Menurutnya, kesalahan terbagi menjadi dua kategori. Pertama, kesalahan ringan seperti gurauan atau kekeliruan yang tidak disengaja, yang dapat diselesaikan melalui saling memaafkan secara umum. Kedua, kesalahan berat yang menyangkut kehormatan atau kerugian serius, yang harus diselesaikan secara langsung dengan permintaan maaf secara khusus.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap bentuk kezaliman harus diselesaikan di dunia. Jika tidak, maka akan dipertanggungjawabkan di akhirat, sebagaimana digambarkan dalam kisah muflis, yaitu orang yang bangkrut amalnya karena tidak menyelesaikan urusan dengan sesama manusia. 

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Habib Mustofa Anas, kemudian dilanjutkan dengan sesi saling bersalam-salaman sebagai simbol saling memaafkan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin ukhuwah yang semakin kuat antar sesama warga NU dan masyarakat, serta memperkokoh peran organisasi dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama